Welcome

Welcome to this blog!

Di blog ini Anda dapat mencari artikel-artikel, materi pelajaran bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Biologi, Kimia dan Bahasa Indonesia untuk SMP dan SMA.
Anda juga dapat mencari link sekolah maupun perguruan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. Seperti misalnya Universitas California, MIT dan sebagainya.
Anda juga dapat mendapatkan informasi tentang bea siswa dalam dan luar negeri.
Bagi yang memiliki materi yang ingin ditayangkan di blog ini kirimkan ke E-Mail saya intankierana@gmail.com .

Terima kasih.

Intan Kirana
Tampilkan postingan dengan label energi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label energi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2011

Bioetanol Generasi Kedua

Indonesia sebagai negara yang memiliki beragam kekayaan alam terbarukan sangat berpotensi menghasilkan bioenergi. Namun, dalam pengembangannya, bahan bakar hayati yang dihasilkan menggunakan banyak biomassa yang dapat digunakan sebagai bahan pangan. Bioetanol, misalnya, masih dibuat dari bahan berpati dan bergula yang merupakan bahan pangan. Hal ini akan berdampak buruk bagi penyediaan pangan. Jika BBN terus menerus dibuat dari bahan pangan, akan terjadi persaingan frontal antara penyediaan pangan dan energi.
Untuk menghindari persaingan tersebut, telah dikembangkan teknologi Bahan Bakar Nabati (BBN) generasi kedua. Teknologi BBN generasi kedua adalah teknologi yang mampu memproduksi BBN, seperti biodiesel atau bioetanol, dari bahan lignoselulosa. Jika kita membudidayakan tanaman apapun, termasuk tanaman pangan (untuk menghasilkan gula, pati, minyak-lemak, dan sebagainya), bahan yang diproduksi terbesar oleh tanaman adalah lignoselulosa. Jika hasil-hasil pertanian dan perkebunan dipanen, bahan lignoselulosa akan tertinggal sebagai limbah pertanian atau sisa penggunaan tanaman dan biasanya kurang termanfaatkan. Hal ini menyebabkan lignoselulosa berpotensi digunakan sebagai bahan mentah produksi BBN.
Lignoselulosa mengandung tiga komponen penyusun utama, yaitu selulosa (30-50%-berat), hemiselulosa (15-35%-berat), dan lignin (13-30%-berat). Salah satu BBN yang dapat dihasilkan dari lignoselulosa adalah bioetanol generasi kedua. Proses konversi lignoselulosa menjadi bioetanol terjadi melalui tiga tahap dasar, yaitu:
1. Pengolahan awal atau delignifikasi, agar selulosa dapat dicapai oleh enzim selulase dan air,
2. Hidrolisis dengan enzim khusus, dan
3. Fermentasi menjadi etanol.



Skema ideal pemanfaatan bahan lignoselulosa untuk memproduksi bioetanol

Selulosa dapat dihidrolisis menjadi glukosa dengan bantuan enzim selulase atau, tetapi umumnya tak dipilih, dengan bantuan asam. Hemiselulosa dapat dihidrolisis menjadi pentosa (terutama xilosa) dan heksosa (minor) dengan bantuan asam encer atau enzim hemiselulase.
Glukosa dan heksosa lain dapat difermentasi menjadi etanol oleh ragi Saccharomyces cerevisiae dengan reaksi :
C6H12O6 –>2 C2H5OH + 2 CO2
Xilosa dan pentosa lain dapat difermentasi menjadi etanol oleh ragi yang sesuai (seperti Pichia stipitis) dengan mekanisme reaksi :
3 C5H10O5 –> 5 C2H5OH + 5 CO2
atau dikonversi menjadi produk lain (xilitol, furfural, dan lain-lain).




Skema lain pemanfaatan bahan lignoselulosa untuk memproduksi bioetanol

Teknologi bioetanol generasi kedua sedang intensif dikembangkan, terutama oleh Amerika Serikat. Pabrik-pabrik demonstrasi juga sudah dan sedang didirikan di berbagai lokasi di Amerika Utara (antara lain oleh Celunol Corp dengan kapasitas 200 ribu m3/tahun di Louisiana).
Pabrik BBN (generasi kedua) ini tak mungkin berskala amat besar (seperti kilang minyak bumi) karena akan terkendala biaya pengumpulan bahan mentah. Namun, kombinasi kedahsyatan biodiversitas, ketersediaan lahan dan juga tenaga kerja membuat Indonesia berpotensi menjadi salah satu sentra produksi BBN dunia.

Referensi:
Slide Kuliah Teknologi Kemurgi oleh Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja
http://majarimagazine.com

Kamis, 24 Februari 2011

Pembatasan BBM : Pemerintah belum siap

Pemerintah mengaku 'menyerah' dan belum siap untuk melakukan kebijakan pembatasan konsumsi BBM subsidi di April 2011. Alasannya, harga minyak sedang melonjak tinggi serta belum siapnya SPBU di Jabodetabek.

"Pembatasan itu dilakukan dengan asumsi-asumsi suatu kajian yang dilakukan oleh UI dan kemudian dilakukan kajian lagi ICP (harga minyak) berapa. Nah melihat perkembangan harga yang begitu tinggi saat ini dan dorong inflasi, dan tergantung kesiapan Jabodetabek dan sebagainya, dan ada baiknya kiat tunda itu," tutur Menko Perekonomian Hatta Rajasa ketika ditemui di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Kamis (24/2).
Namun Hatta tak mau dibilang mencla-mencle atau tidak tegas karena batalnya kebijakan pembatasan konsumsi BBM subsidi ini.

"Kita harus realistis, dan bukan kita tidak tegas atau mencla mencle, tapi kita harus cari solusi untuk rakyat kita. Kita harus sesuaikan itu," kata Hatta.


Hatta menjelaskan pemerintah tetap akan berbicara dengan DPR setelah kajian pembatasan BBM subsidi ini selesai.


Karena itu, bisa jadi pembatasan premium yang rencananya mulai dilakukan di Jabodetabek mulai 1 April 2011 akan mundur, akibat situasi perekonomian yang belum kondusif.


Subsidi Bengkak Rp 5 Triliun


Ditundanya kebijakan pembatasan BBM subsidi dari rencana awal di April 2011 berpotensi menaikkan dana subsidi BBM sebear Rp 3-5 triliun dalam setahun.


Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (24/2).


"Kalau ditunda akan memberikan tekanan subsidi Rp 3-5 triliun dalam setahun," kata Agus
Agus mengatakan, kajian pembatasan BBM subsidi ini akan didiskusikan pemerintah bersama Pertamina dengan Komisi VII DPR. Namun yang pasti, kata Agus, jika dalam kajiannya ternyata kebijakan ini tak layak dan tak efektif, maka akan ditunda pelaksanaannya.


"Kalau dari Kemenkeu adalah menjadwalkan adanya pembatasan ini. Jadi program BBM subsidi tidak lebih dari 38 juta KL," jelas Agus.


"Yang jelas, komitmen kita yang berhak menerima subsidi adalah masyarakat berpenghasilan rendah, karena saat ini justru banyak masyarakat menengah ke atas yang menerima itu," kata Agus.


Agus mengatakan, saat ini pemerintah memang sangat waspada dengan krisis politik di Timur Tengah yang terus mendongkrak harga minyak dunia. Apalagi produksi atau lifting minyak mentah Indonesia masih melempem.

Dari :http://www.harian-global.com